Petani Indonesia, Riwayatmu Kini..

Inagri bersama Petani
Inagri bersama Petani

Nenek moyangku seorang petani! Ya, semboyan itu memang benar adanya, terlebih Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki tingkat biodiversitas paling tinggi kedua di dunia. Tanah subur, iklim tropis yang mendukung, dan sumber daya alam yang melimpah menyematkan Indonesia sebagai Negara agraris alias mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Segala macam jenis pangan tumbuh dengan baik di tanah ini.

Geliat aktivitas pertanian Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1980-an saat sektor pertanian Indonesia menyumbang prestasi luar biasa dengan status swasembada pangan. Prestasi ini tentunya berimpas pada boomingnya sektor pertanian. Sehingga mendorong masyarakat untuk terjun dan bekerja di sektor pertanian. Kemudian banyak inovasi pertanian yang dikenal dengan revolusi hijau.

Swasembada Beras Orde Baru
Swasembada Beras Orde Baru

Tapi itu dulu..

Kini keadaan berbeda, Badan Pusat Statistik (BPS) menghimpun data jumlah petani Indonesia yang terus mengalami penurunan setiap tahunnya. Pada 2013 lalu tercatat 39.22 juta petani dan jumlahnya menjadi 37.75 juta pada 2015.

Terlebih lagi, BPS mencatat struktur petani didominasi usia 35 tahun keatas. Sedangkan usia produktif dari 15-35 tahun yang bekerja di sektor ini jumlahnya semakin berkurang. Tingkat pendidikan petani pun tergolong rendah, mayoritas berpendidikan setingkat SD dengan kemampuan akses terhadap teknologi yang rendah.

Apakah gerangan yang menjadi penyebabnya?

Pertama, jumlah penduduk di desa semakin berkurang. Ini karena maraknya urbanisasi atau proses pengkotaan desa dengan berbagai pembangunan fasilitas dan pilihan lapangan kerja baru. Kaum millenial lebih memilih mengadu nasib di kota besar daripada menggarap ladang di desa. Sedangkan yang berada di daerah rural-urban (perbatasan desa kota), lebih memilih lapangan kerja lain daripada berpeluh di sawah sebagai petani.

Kedua, profesi petani kini dipandang tidak seksi, bahkan terkesan kuno. Banyak diantara lulusan sekolah pertanian yang justru bekerja di sektor non-pertanian atau sektor jasa modern seperti keuangan, komunikasi, perdagangan, dan sebagainya. Hal itu juga menjadi topik yang hangat ketika kunjungan Presiden Joko Widodo ke IPB. Beliau menyinggung “Kemanakah lulusan pertanian, sampai sektor ini kekurangan tenaga ahli”. Hal itu langsung dibantah oleh para alumni dengan menyajikan data serapan pekerjaan para lulusan IPB seperti tampak dibawah ini.

Data Statistik Pekerjaan Lulusan IPB
Data Statistik Pekerjaan Lulusan IPB (kumparan.com)

Faktor lainnya, para petani tidak ingin menjadikan petani sebagai profesi turun-temurun. Mereka berharap anak-anaknya bisa bekerja di kota karena dianggap lebih menguntungkan. Sangat sedikit petani kecil yang menginginkan anaknya mengikuti jejak ayahnya menjadi petani. Pun dengan petani sukses, mungkin akan lebih bangga anaknya menjadi pengusaha atau duduk di kantor BUMN.

Ketiga, prospek pertanian tidak menjanjikan. Bahkan upah petani saat ini jauh dari standar upah minimum regional (UMR). BPS menyebut upah buruh tani hanya Rp49.200 per hari atau kurang dari Rp1.5 juta per bulan. Hal ini memang menjadi lumrah karena petani sesungguhnya tidak banyak yang memiliki lahan. Mereka hanya menjadi buruh yang bekerja diatas tanah orang. Mengolah tanah sewaan yang hasil panennya tak bisa mereka manfaatkan untuk pangan keluarganya sendiri.

Sebagai penutup, kami mencoba kembali membangkitkan semangat diantara deretan masalah-masalah diatas. Kami yakin, bahwa masalah hadir bersama solusinya. Masalah adalah peluang besar bagi yang mau berinovasi untuk dicarikan solusinya. Maka, tetaplah optimis untuk selalu melihat sektor ini sebagai sektor yang perlu diperbaiki, demi menjamin hajat hidup orang banyak. Jadilah bagian-bagian pemerhati pertanian dan bersumbangsih dengan membeli produk dalam negeri. Mari berbagi kebaikan untuk petani!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *