fbpx

Just-In-Time (JIT) Inventory untuk Restoran

Shiddiq Azis July 23, 2018

Pernah dengar Just-In-Time (JIT) inventory management ? metode ini mempunyai tujuan agar bahan baku siap ketika dibutuhkan, tanpa harus memikirkan minimum stok di gudang restoran. Dengan metode ini owner dari Resto dapat hanya menyimpan minimum stok untuk bahan segar seperti sayuran dan daging. Ketika sales meningkat bisa restock tanpa harus menambah biaya untuk penyimpanan.

Metode ini pertama di pelopori di Jepang karena memiliki bahan baku yang terbatas, keadaan geografis yang tidak menguntungkan (80% geografis Jepang adalah pegunungan) dan harga beli/sewa tanah yang mahal. Sistem pertama kali diimplementasikan di Toyota oleh Mr. Taiici Ohno di tahun 1970 guna mengurangi pemborosan, mengeliminasi pengerjaan ulang atau redudansi dan mengurangi jumlah stok yang tidak bergerak di gudang. Metode ini berhasil di implementasikan di Toyota Jepang pada saat itu hingga perusahaan dapat mengurangi jumlah stok di gudang seminimum mungkin (zero inventory orietation). Dari sini lah berkembang istilah Kanban dan Toyota Lean Production and Manufacturing.

Hari ini dengan berkembangnya teknologi dan startup di bidang logistik seperti Gojek, Grab, Deliveree dan banyak lainnya, owner dari bisnis kuliner seperti resto dan warung nasi disuguhkan dengan berbagai channel penjualan. Tidak hanya menjual secara offline namun juga ada layanan antar dari Go Food, Grab Food, atau yang lagi hits sekarang dari Traveloka Eats. Dengan penambahan channel penjualan dan marketing yang tepat owner dari restoran bisa menaikan omset sebanyak 100% nya dari Rp 1 juta per hari menjadi Rp 2 juta (studi kasus warung geprek di Bandung). Jika operasional nya belum siap maka akan mempengaruhi konsistensi penjualan selanjutnya karena operasional yang tidak efisien, tingkat kepuasan pelanggan yang rendah dan masalah di stok bahan segar yang memanage nya tidak mudah.

JIT meng highlight akan perlunya strategi inventory management yang tepat tanpa harus meningkatkan biaya operasional di gudang. Pemilik bisnis bisa fokus untuk merasakan growth customer.

Untuk mengerti tentang Inventory Management membutuhkan waktu dan uang yang tidak sebentar. Agar operasional bisnis kuliner bisa berkembang lebih baik business owner harus memikirkan tentang implementasi JIT agar operasional lebih cepat, dan terdata.

Just-In-Time (JIT) Advantages

Mengurangi Biaya Inventory — Mengurangi biaya inventory secara tidak langsung akan mengurangi biaya untuk pegawai dan expense untuk memanage inventory. Extra space dari suatu restoran bisa digunakan untuk meja tambahan atau pickup counter gofood/grab food.

Minimum Error dalam operasional — Seringkali, kelebihan stok memaksa owner untuk menjual menu dengan harga diskon. Dengan meminimalisir inventory seminimum mungkin owner bisa membuat strategi marketing yang lebih efektif dan efisien.

Just-In-Time (JIT) Disadvantages

Forecasting untuk demand yang tidak akurat — JIT inventory membutuhkan forecasting yang akurat. Karena demand pasar akan terus berubah dan seasonal, akan sangat sulit untuk memprediksi hal tersebut. Tidak hanya pemilik restoran yang harus mengkalkulasi demand pelangaggan namun harus menerima konsekuensinya ketika kalkulasinya salah.

Ada resiko keterlambatan dalam pengantaran — Agar metode JIT bisa bekerja, logistik pengantaran juga harus bisa datang tepat waktu atau istilahnya “Just in Time”. Ketelatan atau ada item yang tidak terkirim akan mengakibatkan reputasi brand berkuranf. Supplier, dropshippers dan petani harus bisa berkolaborasi dengan pemilik bisnis kuliner. Sinkronisasi dan komunikasi ini membutuhkan integrated system dan partnership yang sama-sama aktif satu sama lain.

Konsiderasi untuk Memilih Just-In-Time (JIT)

Apakah demand untuk bisnis cukup stabil ? — Seperti yang dijelaskan diatas , Metode JIT membutuhkan forecasting yang akurat. Akan sangat sulit untuk owner bisnis kuliner untuk memprediksi kebutuhan stok di masa yang akan datang. Metode ini akan sangat banyak tantangan untuk secara sukses diimplementasi tanpa ada toleransi kesalahan diawal.

Pada dasarnya hubungan bisnis adalah hubungan manusia dengan manusia. Apa jadinya hubungan manusia tanpa adanya cinta dan toleransi ?

Deen Assalam

Bagaimana hubungan antara supplier ? — Seperti yang dijelaskan diawal, implementasi JIT yang sukses bergantung pada Supplier/Vendor yang reliabledan responsif. Integrasi baik dalam sistem dan komunikasi diperlukan agar dapat memfasilitasi koordinasi dan komunikasi yang efektif.