fbpx

Singkong, sumber pati yang banyak manfaatnya

dhiya khairinnisa July 21, 2019

Pernah dengar pernyataan tentang tanaman singkong yang seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan?

Benar sekali! Tanaman yang telah dibudidayakan secara komersial di Indonesia ini seluruh bagiannya dapat digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan manusia, terutama sebagai bahan pangan maupun pakan. Saat ini, berbagai penelitian terhadap singkong telah menunjukkan bahwa singkong merupakan salah satu bahan baku yang potensial dalam pengembangan energi terbarukan maupun material ramah lingkungan.

Singkong atau cassava (Manihot esculenta) adalah tumbuhan yang bagian akarnya dimanfaatkan sebagai salah satu sumber karbohidrat utama oleh berbagai negara tropis di dunia. Tanaman singkong merupakan tanaman yang mudah dibudidayakan karena ketahanannya yang tinggi terhadap kondisi tanah yang kering. Singkong adalah produk agrikultur yang banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok lokal, diekspor, maupun diproses lebih lanjut.

Berikut adalah beberapa produk turunan dari ubi singkong.

Singkong sebagai bahan baku pembuatan tepung

Saat ini, produk utama turunan singkong yang banyak diproduksi adalah tepung dan pati singkong. Istilah tepung dan pati seringkali disamakan, bahkan banyak orang yang belum mengetahui perbedaan tepung dan pati. Berikut adalah perbedaan dari masing-masing produk.

Pati singkong atau tepung tapioka

Pati atau amilum adalah karbohidrat yang biasanya terdapat pada tanaman sebagai cadangan makanan. Pati berwujud bubuk putih yang tidak dapat larut dalam air dingin, namun dalam air panas dapat mengalami proses gelling. Untuk mendapatkan pati, pati harus dipisahkan dari komponen-komponen lain yang terdapat dalam singkong seperti protein dan vitamin. Proses pemisahan ini disebut ekstraksi.

Ekstraksi pati dari singkong dilakukan dengan cara memarut singkong yang sudah bersih dan mencampurnya dengan air, kemudian campuran tersebut diperas. Selanjutnya ampas yang mengandung pati diendapkan sehingga komponen selain pati ikut larut bersama air dan terpisah dari pati yang tidak larut air. Pati hasil ekstraksi tersebut kemudian dikeringkan dan digiling menjadi pati singkong berbentuk bubuk, atau lebih dikenal sebagai tepung tapioka.

Tepung singkong

Berbeda dengan pati singkong, tepung singkong merupakan hasil penggilingan singkong yang mengandung tidak hanya pati, melainkan juga protein, vitamin, dan komponen lain yang terdapat pada singkong. Meski begitu, pati tetap merupakan komponen yang paling banyak terkandung dalam tepung singkong. Proses pembuatan tepung singkong meliputi pengupasan dan pencucian ubi singkong, penyawutan yang menghasilkan irisan-irisan tipis ubi singkong, pengeringan irisan tipis tersebut, dan penggilingan. Produk akhir dari proses penepungan ini adalah tepung singkong. Tepung singkong memiliki karakteristik yang berbeda dari tepung tapioka.

Tepung Mocaf (modified cassava flour)

Tepung Mocaf dihasilkan dari singkong yang telah difermentasi menggunakan ragi ataupun bakteri. Tepung Mocaf adalah produk singkong yang dikembangkan untuk menggantikan tepung terigu karena memiliki sifat yang mirip. Tepung terigu terbuat dari gandum, yang sulit tumbuh di Indonesia, sehingga kebutuhan akan tepung terigu saat ini masih dipenuhi dengan cara impor. Tepung Mocaf menghasilkan karakteristik makanan yang hampir sama seperti tepung terigu, misalnya pada mie basah atau mie kering. Karena itu, tepung Mocaf dapat dijadikan alternatif pengganti tepung terigu meskipun memiliki perbedaan komposisi.

Saat ini produksi tepung Mocaf belum banyak di Indonesia meskipun permintaan pasar cukup tinggi, berkaitan dengan harga tepung terigu yang relatif mahal. Bahan baku singkong di Indonesia cukup melimpah dengan harga yang relatif murah, sehingga bisnis produksi tepung Mocaf memiliki prospek yang cukup baik.

Singkong sebagai bahan baku pembuatan gula cair

Gula cair (glucose syrup) dari singkong dihasilkan dengan cara hidrolisis (pemecahan) pati menjadi glukosa dalam dua tahap. Tahap pertama yaitu hidrolisis pati menjadi gula sederhana, dextrin, menggunakan enzim alfa amilosa. Selanjutnya dextrin yang dihasilkan diubah menjadi glukosa menggunakan enzim amiloglukosidase. Produk akhir yang dihasilkan berupa gula (glukosa) cair yang dapat digunakan sebagai pemanis makanan pengganti gula tebu.

Singkong sebagai bahan baku biofuel

Pemanfaatan singkong tidak sebatas sebagai sumber pati untuk dikonsumsi manusia dan hewan ternak saja. Kandungan gula yang tinggi menjadikan singkong sebagai bahan baku biofuel yang baik. Pati dari akar tanaman singkong dapat diubah menjadi etanol melalui proses fermentasi, sementara limbah dari proses pembuatan etanol tersebut dapat dijadikan bahan baku pembuatan biogas.

Singkong sebagai bahan baku biomaterial

Pati singkong dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biomaterial. Terdapat dua jenis biomaterial, yaitu:

  1. Biomaterial yang diambil dari sumber hayati melalui proses ekstraksi. Dalam hal ini, contohnya berupa pati utuh yang diekstraksi dari singkong. Dalam pembuatan biomaterial, pati tersebut berada dalam struktur aslinya dan dicampur dengan material sintetis lain yang memiliki sifat lebih kuat. Tujuan dari penambahan biomaterial jenis ini biasanya adalah untuk mengurangi biaya produksi.
  2. Biomaterial yang terdiri atas monomer (molekul penyusun) dari sumber hayati. Dalam hal ini, contohnya pati yang telah diekstraksi diubah terlebih dulu menjadi asam laktat melalui proses fermentasi. Asam laktat tersebut kemudian melalui proses polimerisasi (penggabungan monomer) sehingga menjadi poli-asam laktat atau PLA (poly-lactic acid).

Salah satu perusahaan yang telah mengembangkan dan memproduksi bioplastik berbahan dasar singkong adalah Avani Eco. Plastik yang dihasilkan bersifat biodegradable dan dapat dikomposkan (compostable), serta dapat larut dalam air panas.

Pembuatan bioplastik dari pati tentu saja merupakan solusi yang sangat menarik bagi permasalahan sampah plastik yang semakin mengancam kehidupan dari waktu ke waktu. Pun dengan pembuatan biofuel dari pati singkong yang dapat menurunkan angka kebutuhan akan minyak bumi. Namun karena pati singkong masih menjadi salah satu bahan makanan yang penting bagi manusia dan ternak, maka pemanfaatannya sebagai bahan baku di industri plastik dan industri bioenergi belum banyak dilakukan. Meski begitu, dalam proses pembuatan pati singkong, dihasilkan limbah cair serta ampas dalam jumlah banyak yang disebut limbah pati singkong atau cassava starch waste (CSW). CSW ini mengandung pati, serat, serta karbohidrat yang larut dalam air limbah (wastewater). Seluruh karbohidrat tersebut dapat dihidrolisis menjadi gula sederhana. Kemudian, gula yang dihasilkan dapat difermentasi menjadi biofuel seperti etanol, butanol, maupun pentanol. Selain pati, ada pula karbohidrat berupa lignoselulosa yang dapat diolah lebih lanjut menjadi gula sederhana maupun monomer penyusun biomaterial.

Referensi

Agnihotri, S., Shukla, S., & Pilla, S. (2019). Sustainability Issues in Bioplastics. Reference Module in Materials Science and Materials Engineering.

Badan Litbang Pertanian (2011) Proses pengolahan tepung kasava dan tapioka. Sinartani, 4, 6-11.

Lages, A. C. A., & Tannenbaum, S. R. (1978). Production of glucose from tapioca (Cassava Starch) and Farinha De Mandioca (cassava meal). Journal of Food Science, 43(3), 1012–1014.

Prasertsung, I., Aroonraj, K., Kamwilaisak, K., Saito, N., & Damrongsakkul, S. (2019). Production of reducing sugar from cassava starch waste (CSW) using solution plasma process (SPP). Carbohydrate Polymers, 205, 472–479.

Rumah Mesin (2016) Tepung singkong sebagai alternative tepung terigu yang menyehatkan [online] dari https://www.rumahmesin.com/tepung-singkong/ diakses pada 15 Juli 2019.

Zhang, M., Xie, L., Yin, Z., Khanal, S. K., & Zhou, Q. (2016). Biorefinery approach for cassava-based industrial wastes: Current status and opportunities. Bioresource Technology, 215, 50–62.